Langsung ke konten utama

Review Conclave: Intrik Politik di Balik Voting Pemilihan Paus Baru

Review Conclave: Intrik Politik di Balik Voting Pemilihan Paus Baru

Sinopsis Conclave

Conclave (2024) adalah sebuah film drama-thriller yang disutradarai oleh Edward Berger, diadaptasi dari novel karya Robert Harris. 

Ceritanya berfokus pada pusingnya Kardinal Thomas Lawrence, yang ditugaskan untuk memimpin konklaf kepausan setelah kematian mendadak paus sebelumnya. Para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Vatikan untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik. 

Di tengah proses konklaf yang tertutup rapat, ada beberapa kandidat kuat dan juga beberapa “kuda hitam”. Seiring proses voting dilakukan, muncul beragam fakta menarik dari masing-masing kandidat, mulai dari masa lalu suram sampai intrik-intrik untuk menjegal rival. Kesemuanya berpotensi mengguncang fondasi Gereja. Hingga kemudian, karena begitu overwhelming dengan segala hal yang susul menyusul muncul, akhirnya ada satu kandidat kuat yang terpilih.

Namun, ternyata masalah tetap ada. Karena, pada dasarnya, tidak ada satu pun manusia yang sempurna.

Dibintangi oleh Ralph Fiennes sebagai tokoh utama, film ini menawarkan atmosfer yang intens dan penuh misteri, dengan alur cerita yang menggali dinamika kekuasaan dan keyakinan di balik tembok Vatikan. Film ini juga dibintangi oleh Stanley Tucci sebagai Kardinal Aldo Bellini, John Lithgow sebagai Kardinal Joseph Tremblay, Sergio Castellitto sebagai Kardinal Goffredo Tedesco, dan Isabella Rossellini sebagai Suster Agnes. 

Conclave tayang perdana di Telluride Film Festival ke-51 pada 30 Agustus 2024, dirilis di bioskop Amerika Serikat oleh Focus Features pada 25 Oktober 2024, dan di Inggris oleh Black Bear UK pada 29 November 2024. Film ini mendapatkan ulasan positif dari kritikus, dengan pujian untuk penampilan para aktor, penyutradaraan, skenario, dan sinematografi. 

Conclave dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh film terbaik tahun 2024 oleh National Board of Review dan American Film Institute. Film ini menerima enam nominasi Golden Globe Awards dan memenangkan kategori Skenario Terbaik. Selain itu, Conclave meraih sebelas nominasi di Critics' Choice Awards ke-30, termasuk Film Terbaik.

Review Pribadi

Konklaf itu, intinya, saat para kardinal berkumpul untuk memilih Paus baru. Kedengarannya sederhana, tapi sebenarnya penuh intrik politik. 

Film Conclave menggambarkan hal ini dengan sangat tepat—manuver kekuasaan, rahasia, dan aliansi mendominasi prosesnya. Bahkan tahta tertinggi di Vatikan ternyata hanya soal politik belaka.

But this film? THAT ENDING. Seriously, EMANG BOLEH? TOLONG. Twist-nya begitu berani sampai-sampai bisa saja disebut penistaan agama. Kalau merasa sudah pernah melihat segalanya, pikir lagi—karena Conclave berani menyentuh hal-hal yang jarang disentuh.

Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐
Review by: CR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cuckoo: Bukan Horor Biasa, tapi Teror yang Bikin Nggak Nyaman

Sinopsis Cuckoo Cuckoo adalah film horor psikologis yang dirilis pada tahun 2024, disutradarai oleh Tilman Singer. Film ini mengisahkan tentang Gretchen, seorang remaja berusia 17 tahun yang baru saja kehilangan ibunya. Ia pindah bersama ayahnya ke sebuah resor di Pegunungan Alpen, Jerman.  Di sana, ia harus tinggal bersama keluarga barunya, termasuk ibu dan adik tirinya. Setibanya di resor, mereka disambut oleh Tuan Konig, bos ayahnya, yang menunjukkan ketertarikan aneh terhadap saudara tiri Gretchen yang bisu.  Seiring waktu, Gretchen mulai mengalami kejadian-kejadian misterius, termasuk suara-suara aneh dan penglihatan mengerikan, yang membawanya pada penemuan rahasia kelam terkait keluarganya sendiri.  Film ini menampilkan Hunter Schafer sebagai Gretchen, Dan Stevens sebagai Tuan Konig, Jessica Henwick sebagai Beth, dan Marton Csokas sebagai Luis. "Cuckoo" pertama kali diputar di Festival Film Berlin ke-74 pada Februari 2024 dan mendapatkan ulasan positif dari berbaga...

Dune: Part Two – Epik Sci-Fi yang Masih Tetap Grande dan Memukau

Sinopsis Film "Dune: Part Two" melanjutkan kisah epik Paul Atreides (diperankan oleh Timothée Chalamet) yang berusaha membalas dendam atas kehancuran keluarganya oleh House Harkonnen.  Bersama ibunya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson), Paul berhasil melarikan diri dan bergabung dengan suku Fremen di planet gurun Arrakis. Di sana, ia menjalin hubungan dengan Chani (Zendaya) dan mulai memahami budaya serta tradisi Fremen.  Paul menghadapi dilema antara memimpin pemberontakan melawan Kaisar Padishah Shaddam IV dan House Harkonnen, atau memenuhi takdirnya sebagai Kwisatz Haderach, figur mesianik yang dinantikan. Perjalanan ini tidak hanya tentang balas dendam, tetapi juga pencarian jati diri dan pemahaman akan takdirnya yang berkaitan dengan nasib alam semesta. Review Pribadi Sejak awal film dimulai, nuansa grande masih konsisten terasa. Memasuki adegan pertarungan di gurun, rasa kagum sudah nggak bisa dibendung. Setiap detik, mulut menggumamkan ‘Wah…” sembari menikmati gambar yang...